PELAYAN TUHAN BERHENTI BELAJAR KATHAROS BERHENTI BERTUMBUH ( The servant of God stop learning stop growing katharos )

Sabtu, 31 Januari 2015

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
1 Korintus 7:17-24



Tujuan:
1.        Mengetahui maksud dari hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah.
2.        Memahami bagaimana anak-anak Allah memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bukan perkara duniawi.
3.        Mengetahui bagaimana menerapkannya dalam pelayanan.

Background Kota Korintus
Kota Korintus yang terletak di Mediterania menjadi pusat ekonomi dan komersial di Yunani. Pusat kosmopolitan yang kaya ini, dengan penduduk sekitar 700.000 orang, segera menjadi tolak ukur tindakan asusila dan kebobrokan moral. Dalam lingkaran yang jahat inilah, Paulus mendirikan gereja di Korintus ketika ia berada di sana selama 1,5 tahun pada perjalanan penginjilannya yang kedua. Priska, Akhwila, Silas, dan Timotius merupakan penolong usaha-usaha Paulus ini, namun segera setelah keberangkatan Paulus kejahatan yang berat dan perpecahan golongan mengancam stabilitas dan keberadaan gereja. Secara sistematis surat dari Paulus kepada jemaat di Korintus menjawab beberapa persoalan, seperti perpecahan dalam jemaat, kebobrokan moral, perkara hukum, tantangan atas kerasulan Paulus, persembahan daging kepada berhala, pernikahan, perceraian, dan perjamuan kudus.

Apa panggilan Tuhan dalam hidup kita? (Ayat 22-23) menjadi hamba Tuhan, karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Dalam 1 Korintus 1:9, Allah telah memanggil kita kepada persekutuan dengan Tuhan Yesus. Allah memiliki kerinduan agar kita setiap anak-anakNya memiliki persekutuan yang intim dengan-Nya, pelayan yang taat. Contoh: Paulus berkata bahwa Tuhan telah memilih Paulus sejak dalam kandungan ibunya dan memanggil dia oleh kasih karunia-Nya supaya ia memberitakan kebenaran di antara bangsa bukan Yahudi (Gal.1:15).



Keadaan seperti apa ketika kita dipanggil Allah? Ayat 18 dan 21.
Ayat 18 dipanggil dalam keadaan sunat dan tidak bersunat (Sunat yang dimaksud adalah sunat lahiriah). Sunat adalah tanda bahwa seorang sudah terhisab dalam perjanjian dengan Allah, dilakukan pada tubuh setiap anak laki-laki di Israel pada umur 8 hari (Kej. 17:9-13). Orang-orang yang tidak bersunat berarti bangsa-bangsa bukan Israel dan pada zaman perjanjian lama, orang-orang tidak bersunat harus dilenyapkan karena telah mengingkari perjanjian dengan Allah (Kej. 17:14). Orang yang ada dalam Kristus, hal yang bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti (Gal. 5:6), yang penting ialah menaati hukum Allah (ayat 19). Sunat tidaklah menyelamatkan, sunat tidak ada artinya jika kita melanggar perintah Allah, kemudian jika orang-orang yang tidak bersunat menaati perintah Allah bukankah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? (Roma 2:25-26).
Orang yang disebut Kristen bukanlah orang yang lahiriah Kristen, lahir dari keluarga Kristen sedari kecil. Tetapi orang Kristen sejati ialah dia yang tidak menampakkan kekristenannya, namun memiliki karakter Kristus. Seorang pelayan yang dipanggil Tuhan, entah dalam keadaan “sunat” (yang berarti sedari kecil sudah lahir dari keluarga Kristen dan sudah dibaptis) ataupun “tidak bersunat” (yang sedari kecil belum tentu dari keluarga Kristen atau bahkan belum dibaptis), itu bukanlah suatu perkara penting, yang terpenting ialah menaati perintah Allah, menjadi pelayan yang taat dan setia. Sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani (Roma 2:28-29) sehingga kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa, kita akan mendengarkan kembali suara Tuhan dan melakukan segala perintah-Nya (Ul. 30:6,8). Jadi, Tuhan tidak memperhatikan background kita, apakah dari keluarga Kristen, apakah sudah dibaptis, apakah dari keluarga pendeta, dan lain-lain, yang terpenting ialah kita menaati perintah dan hukum Allah.
Ayat 21 dipanggil dalam keadaan hamba (dalam konteks budak) dan orang bebas. Saat itu 1/3 dari penduduk jemaat Korintus adalah hamba/budak. Tidak masalah jika memang status adalah budak, namun seorang hamba/budak yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya adalah orang bebas milik Tuhan. Orang bebas yang dimaksud disini adalah orang merdeka dalam Kristus. Kesempatan itu dapat kita gunakan untuk menaati Kristus.
Orang bebas yang dipanggil Kristus adalah hamba-Nya. Jadi, mau itu hamba atau orang bebas, tetap di mata Tuhan sama, sama-sama milik Kristus.
Maka dalam ayat 24 hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah, yang berarti penting dalam kehidupan kita untuk tinggal dekat dengan Allah dan menikmati hadirat-Nya, bukan status sosial kita di hadapan manusia. Dalam pelayanan kita, tidak penting untuk melihat status sosial kita, yang terpenting bagaimana kita dapat mengerjakan pelayanan kita sesuai kehendak Allah.

Bagaimana Allah memanggil kita? Matius 8:18-22
Penyaringan Tuhan :
a.         Ahli Taurat yang ditolak Tuhan Yesus (ayat 20).
Seorang ahli taurat apakah mungkin dia mau mengikut Yesus yang tidak sekolah teologi dan memanggil Dia guru? Jawabannya tidak mungkin.  Kenapa?  Karena tidak ada 1 orang pun yang terlalu hebat dan siap untuk menjadi pelayann Kristus, sebab dasar untuk menjadi pelayan Kristus bukan panggilan pribadi tapi “PANGGILAN TUHAN”.
Serigala yang buas tetap tetap dipelihara Tuhan
Burung yang lembut juga tetap dipelihara Tuhan
Namun Tuhan Yesus tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tempat untuk berbaring.
Artinya menjadi pelayan Tuhan tidak mempunyai keuntungan apa-apa di dunia ini.
Efesus 2:9-9 berkata menjadi pelayan Tuhan karena panggilan bukan kehendak sendiri.

b.      Ayat 21, murid yang lemah dalam memahami panggilan Tuhan
Tuhan sudah jelas memanggil orang itu, namun karena himpitan hikmat duniawi menyebabkan iman orang itu menjadi lemah. Iman yang lemah akan menyia-nyiakan panggilan kasih karunia yang sangat besar.
Dari contoh di atas, terlihat jelas bahwa Tuhan memanggil kita lewat firman-Nya yaitu melalui perkataan-Nya. Saat ini perkataan Tuhan Yesus tertuang dalam Alkitab. Semakin sedikit kita membaca dan merenungkannya maka semakin kita tidak akan mengerti dan tahu apa yang Tuhan mau katakan kepada kita.

Semangat sebelum dan semangat sesudah?
Seorang anak yang berumur 5 tahun memiliki kapasitas sepenuhnya 5 tahun. Setelah mengalami pertumbuhan 17 tahun, kapasitasnya bertambah. Dengan kapasitas bertambah, apakah isinya juga bertambah? Seorang yang berusia 17 tahun mungkin memiliki karakter yang seperti usia saat 5 tahun jika kapasitas tersebut tidak diisi dengan kebutuhan saat dia berusia 17 tahun.
Saat sebelum pelayanan, kita masih menjadi anggota. Pada umumnya saat teduh atau tidak, bukan suatu kebutuhan rohani. Masih bebas sesuka hati. Kemudian dipanggil menjadi badan pengurus, kita sudah saatnya memiliki kebutuhan wajib mengenai saat teduh. Kemudian dipanggil menjadi tim kerja, tidak hanya saat teduh, tapi sudah mulai mengisi kapasitasnya dengan PA pribadi, bible reading, dan lain-lain.
Seiring bertambahnya waktu, maka bertambah juga umur secara jasmani dan rohani. Dengan demikian, kapasitas kita pun bertambah. Celakanya jika usia dengan kapasitas yang bertambah, namun kita tidak mengisinya dengan kebutuhan rohani dan pembelajaran akan Firman Tuhan. Pada umumnya, anggota jika diberi tugas untuk PA, maka belum tentu dia dapat melakukannya, karena dia belum mengerti dan kapasitasnya belum sampai di situ. Namun bagi pelayan Tuhan, PA, saat teduh, bible reading, dan lain-lain merupakan hal yang wajib, dikarenakan kapasitasnya sudah memenuhi untuk diisi hal tersebut. Jika kita sebagai pelayan Tuhan jarang untuk mengisi kapasitas kita dengan hal-hal rohani, maka kita tidak bertumbuh, kita masih bersikap kekanak-kanakan, bahkan kembali lagi seperti anggota. Misalnya seorang pelayan Tuhan wajib mengikuti PD Sunday, namun karena tidak mengisi kapasitasnya sehingga belum mengerti maka lebih memilih jalan-jalan atau melakukan perkara dunia.
Saat setelah regenerasi, pada umumnya kita masih semangat, memiliki spirit of excellent (roh yang luar biasa), PD Sunday penuh dengan pelayan Tuhan, namun seiring berjalannya waktu, semangat mulai memudar, PD Sunday makin longgar hadir, saat teduh tiap Selasa dan Jumat makin sedikit. Mengapa demikian?

Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah?
Latar belakang Paulus menulis surat kepada Jemaat Korintus adalah adanya pertanyaan dari jemaat kepada Paulus mengenai hal-hal yang pada dasarnya tidak prinsipal dalam kaitannya dengan iman kepada Tuhan. Entah disunat atau tidak disunat, entah budak atau orang bebas, orang Kristen harus tetap menjaga kondisi mereka saat waktu dipanggil Allah. Yang harus menjadi fokus adalah melayani Allah dengan segala keberadaan kita saat kita dipanggil oleh Allah. Paulus menekankan hal ini sampai 3 kali di ayat 17, 20, dan 24. Panggilan kita sebagai pelayan Tuhan lebih penting dan

Mengapa pelayan Tuhan tidak memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan seperti keadaan waktu dipanggil?
a.         Tidak mengerti panggilan Tuhan (ayat 19).
Jemaat di Korintus mengikuti aturan tanpa pengertian yang benar. Mereka mempersoalkan bersunat atau tidak bersunat, padahal kedua hal tersebut tidak penting, yang penting ialah melakukan perintah Allah. Mereka memiliki pengertian yang lurus-lurus aja seperti anak-anak. PD Sunday diwajibkan bagi setiap pelayan Tuhan, dikarenakan setiap pelayan Tuhan harus belajar karena jika tidak belajar, maka Katharos berhenti bertumbuh. Kita terkadang mengikuti PD Sunday tanpa pengertian tersebut, sehingga jika kita melakukannya tanpa pengertian, maka kita lama-kelamaan akan bosan, malas, sehingga ujung-ujungnya tidak datang seterusnya, bahkan cenderung undur dari pelayanan.

b.        Karena kita tidak sadar bahwa kita telah dibeli dan sudah lunas dibayar (ayat 23).
Kristus telah memerdekakan kita, sehingga kita bebas melakukan “apapun”, Tuhan memberikan pilihan bagi kita untuk bertindak. Sekarang kapasitas kita sebagai pelayan Tuhan lebih besar (spiritnya, fokusnya, pemikiran, hikmat) daripada anggota. Namun jika kita sebagai pelayan Tuhan tidak mengisi kapasitas kita dengan PA, saat teduh, bible reading, dan lain-lain, maka spirit, fokus, pemikiran, hikmat, akan sama saja seperti anggota pada umumnya. Waktu yang dapat kita gunakan untuk melakukan perkara rohani tergantikan dengan melakukan perkara dunia (ayat 31-32).

c.         Tidak menaati hukum Allah (ayat 32-34).
Fokus yang terbagi-bagi dapat membuat kita tidak menaati hukum Allah. Tuhan mau kita tetap fokus kepadanya, namun karena kita telah memusatkan perhatian pada perkara dunia, maka kita tidak lagi fokus kepada Tuhan, dan akhirnya kita bingung mau menaati siapa. Contoh dalam ayat 32, Paulus mengatakan bahwa orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, yakni bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Ayat 33 mengatakan orang yang beristri memusatkan perhatiannya pada perkara dunia, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Jika ditarik dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada yang punya pacar dan ada yang belum memiliki pacar, nanti fokusnya akan berbeda.
Lukas 14:26, kita harus sadar bahawa posisi Tuhan itu tinggi. Dia lebih besar dari pada pada orang tua kita, isteri, anak-anak, bahkan nyawa kita sendiri. Kebanyakan dari pada kita tidak sadar akan hal itu sehingga kita menduakan Tuhan dan pada akhirnya posisi Tuhan itu berada dibawah dari pada hal-hal yang tadinya dibawah posisi Tuhan mksalnya orang tua, isteri, anak-anak, saudara bahkan nyawa kita.

Cara untuk memahami bagaimana untuk memusatkan perhatian kepada Tuhan?
a.         Mengerti panggilan Tuhan melalui firman-Nya, hidup dipimpin oleh Roh (1 Sam.22).
Tuhan memanggil kita lewat firman-Nya, yaitu lewat firman-Nya dalam Alkitab. Namun jika kita sendiri tidak mempunyai disiplin khusus sebagaimana seorang pelayan Tuhan untuk bertumbuh dalam Pemahaman Alkitab (PA), maka kita tidak akan pernah tahu apa yang Tuhan mau sampaikan pada kita dan apa yang mau kita sampaikan kepada orang yang kita layani. Daud mengerti akan panggilan Tuhan dan apa yang mau Tuhan sampaikan padanya. Hal itu karena Daud selalu bertanya pada Tuhan dan Tuhan menjawab setiap pertanyaannya. Jika kita sendiri tidak pernah bertanya, maka kita tidak akan mengerti apa yang akan Tuhan sampaikan pada kita.

b.        Menaati hukum Allah (ayat 19)
Bagi jemaat di Korintus mereka melakukan sunat karena mengikuti aturan padahal yang paling penting adalah menaati dan melakukan hukum Allah. Hukum Allah adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan itu bersifat mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuaan atau karakter, mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).
Seorang pelayan dapat terjebak jika hanya mengikuti aturan Tuhan tanpa pengertian yang benar. Hukum Tuhan harus ditaati dengan pengertian yang benar, jadi, bukan hanya untuk diikuti saja tanpa pengertian. Oleh karena itu, setiap pelayan harus membangun pengertian-pengertian yang benar dari firman Tuhan terlebih dahulu, lalu melakukannya sungguh-sungguh. Ketaatan yang benar dibangun diatas dasar pengertian kebenaran firman yang benar, jika tidak ketaatan tersebut tidak akan bertahan lama. Sejauh ini, apakah saudara tetap mempunyai ketaatan yang kuat atau kokoh? Jika “ya”, itu karena ketaatan saudara dibangun diatas dasar pengertian yang benar. Namun, jika “tidak” dan saudara mempunyai ketaatan yang mudah diruntuhkan, berarti saudara harus memperbaiki ketaatan saudara.

Bagaimana cara menerapkan dalam pelayanan?
a.       Tetap memfokuskan pikiran dan perasaan pada perkara Tuhan (ayat 29-31)
Orang yang beristri harus berlaku seolah-olah tidak beristri, orang yang menangis seolah-olah tidak menangis, orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira, dan pendeknya orang yang mempergunakan barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Kata “seolah-olah” menunjukkan bahwa kita harus menggunakan hikmat, pengertian sesuai kebenaran firman Tuhan agar kita hidup tanpa kekuatiran dan memfokuskan diri kepada Allah “seolah-olah tidak beristeri atau bersuami”. Ketika kita tidak bertindak menggunakan “seolah-olah” maka yang terjadi adalah orang yang beristri akan memusatkan perhatiannya kepada perkara dunia yakni bagaimana ia menyenangkan suaminya, dan sebaliknya.
Pelayan-pelayan Tuhan dalam kehidupan kampus sering tidak terlepas dari kehidupan bersama calon Pasangan Hidupnya (PH), “tidak menjadi masalah”-ay.28, tapi, “mengingat kondisi darurat sekarang”-ay.26, maka dalam waktu yang masih tersisa di kampus hendaklah setiap kita yang hidup bersama calon PH-nya “harus berlaku seolah-olah tidak memiliki PH”-ay.29. Bagaimana menurut pendapat saudara? Jangan tahan sharing saudara ya!!!!

b.      Tetap berpegang dalam komitmen yang telah dibuat (ayat 40)
Paulus memberikan pendapat pada jemaat di Korintus sebagai orang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah (ayat 25). Dalam ayat ini dia memberikan pendapat untuk seorang isteri yang telah ditinggalkan suaminya karena meninggal dunia. Paulus memberikan pendapat untuk tetap dalam kondisinya itu yaitu tidak lagi memiliki suami. Selain dia juga tetap menghormati perjanjiannya dengan suaminya dulu, dia juga akan lebih berbahagia karena dia tidak akan memusingkan diri dengan perkara dunia, sehingga dia akan bisa lebih memfokuskan dirinya pada Tuhan. Seperti di ayat 34, fokusnya tidak terbagi-bagi lagi. Pikiran, perasaan, semangat, energi dan fokusnya hanya kepada Tuhan dan dia dikuduskan bagi Tuhan. Maksud Paulus dalam memberitakan hal ini juga untuk kepentingan jemaat di Korintus, bukan untuk menghalang-halangi mereka dalam kebebasan, tetapi sebaliknya supaya mereka melakukan apa yang benar dan baik dalam melayani Tuhan tanpa gangguan (ayat 35).
Tetap berdiri diatas komitmen awal atau bahkan membangun komitmen yang lebih kuat lagi merupakan perkara yang harus dilakukan, jika saudara dan saya menginginkan pelayanan kita menjadi lebih kuat.

Kesimpulan
“Hiduplah dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah.”
Cinta pada pandangan pertama tidak hanya sekedar spirit yang menyala-nyala saat awalnya, tapi mempertahankan sampai akhir dengan fokus kepada perkara Tuhan dan menjaga komitmen yang telah dibuat.

Makalah oleh :
Rexiano Njurumana
Arsyati Sumule

Daftar pustaka
·         Alkitab
·         Alkitabsabda.org
·         Tafsiran Alkitab jilid 3

·         Catatan pribadi : Training regenerasi “Kejelasan Panggilan Tuhan”

Minggu, 28 September 2014

LADANG TUHAN,LADANG YANG SUDAH MENGUNING



                                                                                                            PD SUNDAY
PETUGAS : MAXI TIMO DAN APRILIA KUSUMANINTYAS
MINGGU, 24 AGUSTUS 2014

Ladang Tuhan, ladang yang sudah menguning
Yohanes 4:1-42


“Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yoh.4:35)
Pada saat Yesus dan murid-muridnya melintasi daerah Samaria, mungkin mereka melihat ladang-ladang disekitar daerah itu. Kemudian murid-murid Yesus mengatakan bahwa empat bulan lagi akan tiba musim untuk menuai, mereka mengatakan itu karena yang dimaksud adalah menuai atau panen secara jasmani. Tetapi apa yang Yesus maksudkan berbeda dengan yang murud-murid maksudkan, maksud Yesus adalah menuai atau panen secara rohani. “..Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”  Secara jasmani, musim atau waktu untuk menuai masih harus menunggu empat bulan lagi. Secara rohani, Yesus berkata bahwa ladang sudah menguning dan matang , sudah siap untuk dituai atau dipanen saat itu juga. Pekerjaan penuai adalah pekerjaan penginjilan. Menuai menurut KBBI adalah pekerjaan memetik hasil; menjalankan panen; memanen. Yang diamksud menuai disini adalah pekerjaan mengabarkan Injil.
Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah…” Kata melihat adalah kata yang secara umum mengungkapkan ihwal mengetahui sesuatu melalui indera mata. Jadi, kata itu tidak hanya menyatakan ihwal membuka mata serta menunjukkannya ke objek tertentu, tetapi juga ihwal mengetahui objek itu. Kata memandang menyatakan perbuatan memperhatikan objek dalam waktu yang agak Iama dan dengan arah yang tetap. Perbuatan itu melibatkan emosi pelakunya. “Lihatlah sekelilingmu” tidak hanya perbuatan melihat yang dilakukan secara sambil lalu dan santai untuk memperoleh gambaran umum tentang keadaan sekeliling yang diamati (tuaian), tapi juga “pandanglah”…dimana seseorang harus membuka mata lebar-lebar, dibutuhkan komitmen dari seorang penuai untuk memberi diri, menyediakan waktu, tenaga, pikiran lebih serta sikap fokus untuk dapat mengetahui atau mempelajari tuaian di sekelilingnya.


Siapakah “ladang-ladang” itu?
Yang dimaksud dengan “ladang-ladang” adalah orang-orang yang ada di sekeliling atau disekitar Yesus yang Yesus temui selama perjalanan dan berpotensi untuk dilayani (diinjili). Jadi “ladang-ladang”  yang dimaksud dalam perumpamaan ini adalah perempuan Samaria yang datang menimba air di sumur Yakub. Tujuan awal perempuan Samaria itu datang adalah untuk menimba air, bukan untuk menemui Yesus, tetapi disitu Yesus menggunakan kesempatan yang ada untuk menginjili perempuan Samaria itu dan perempuan itu percaya. Jadi yang dimaksud dengan “ladang-ladang” adalah orang-orang yang kita temui yang berada di sekeliling atau sekitar kita, dimana kita memiliki kesempatan untuk melayani (menginjili) mereka.
Apa yang dimaksud dengan  ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” ?
Yoh.4:30..”Maka merekapun pergi keluar kota lalu datang kepada Yesus.” Orang-orang yang mendengar kesaksian perempuan Samaria setelah bertemu dengan Yesus, kemudian merekapun berbondong-bondong pergi menuju kota Sikhar tempat Yesus berada untuk bertemu dengan-Nya dan mereka sudah siap untuk menerima Injil. Jadi yang dimaksud dengan “ladang yang sudah menguning” yaitu mereka yang bukan secara kebetulan datang atau sengaja datang untuk minta dilayani atau diinjili, mereka yang sudah siap untuk menerima Injil.
Yoh.4:39..”Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu,..”   Dalam ayat ini orang-orang yang datang untuk menemui Yesus sudah dilayani dan mereka telah menjadi percaya, inilah yang dimaksud dengan “matang untuk dituai”.
Pekerjaan menabur dan menuai
Yoh.4:28,..Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang disitu: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”.
Untuk melayani Tuhan sebagai seorang penabur dan penuai, bagaimana latar belakang kita tidaklah penting, asalkan kita punya komitmen. Lihat latar belakang perempuan Samaria itu, dia orang berdosa, sudah memiliki 5 suami bahkan yang terakhir bersamanya bukan suaminya, dia juga berasal dari Samaria, suku yang dianggap hina. Tapi apa yang dilakukan perempuan Samaria itu? Setelah menjadi percaya, dia pergi ke kota memberitakan kabar tentang Yesus dan membawa orang-orang datang kepada Yesus, bahkan dia sampai melupakan tujuan awal dia datang untuk mengambil air di sumur Yakub. Perempuan Samaria itu juga telah menjalankan perannya sebagai seorang penabur.
 (Ayat 31) Pada saat itu murid-murid mengajak Yesus untuk makan, namun Yesus menolak dengan mengatakan bahwa Ia telah memiliki makanan yang tidak mereka kenal (ayat 32), dan makanan itu adalah melakukan kehendak Allah. Yesus menjadikan pekerjaan-Nya sebagai makanan dan minuman bagi-Nya. Yoh.4:34,..Kata Yesus kepada mereka:”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaiakan pekerjaan-Nya.” Yesus menegaskan bahwa bagi Dia yang paling utama adalah mengerjakan kehendak Allah Bapa yang mengutus Dia dan melakukan pekerjaan-Nya yaitu menabur dan menuai jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah. Bahkan hal itu dilakukan-Nya pada saat murid-murid-Nya sedang pergi mencari makan, namun Yesus lebih memilih untuk melakukan pekerjaan-Nya yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa (menginjili perempuan Samaria).
Yoh.4:36,..”Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.”
Seorang penuai mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, maksudnya bahwa semata-mata tujuan hidupnya tidak hanya untuk memuaskan nafsu secara jasmani (makan), tapi mengerjakan kehendak Allah Bapa menjadi prioritas utama. Ketika murid-murid rela untuk menunda rasa lapar mereka dan memilih untuk melayani orang-orang Samaria yang datang, mereka telah mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal dan saat itu juga mereka telah menerima upahnya karena mereka turut bekerja di ladang. Ada sukacita yang lebih besar saat penuai memprioritaskan kehendak sang pemilik ladang (Allah Bapa sebagai pemilik ladang tuaian), melebihi sukacita duniawi. Pada umumnya pekerjaan sebagai penabur dan penuai adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang berbeda (Yesus dan perempuan Samaria sebagai penabur, murid-murid sebagai penuai), namun mereka dapat menikmati sukacita itu bersama-sama saat musim menuai tiba. Murid-murid sebagai penuai bekerja sama dengan Yesus dan perempuan Samaria sebagai penabur untuk menghasilkan tuaian yaitu orang-orang Samaria yang menjadi percaya. Jadi seorang penabur adalah mereka dipakai Tuhan sebagai alat untuk memulai suatu pelayanan bagi Kerajaan Allah, membuka jalan supaya orang-orang datang kepada Tuhan. Selanjutnya penuai-lah yang akan menyempurnakan pekerjaan dari seorang penabur.
Yoh.4:37-38,.. “Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”
Arti kata penuai adalah orang yang menuai, alat untuk menuai.  Dalam perumpamaan ini, yang menjadi penuai adalah murid-murid Yesus. Mereka tinggal menuai, memetik hasil tuaian dari apa yang tidak mereka tabur  yaitu orang-orang Samaria yang datang menemui Yesus setelah mendengar kesaksian perempuan Samaria. Perempuan Samaria-lah yang menjadi penabur, karena ia yang memberitakan kabar tentang Yesus dan membawa orang-orang untuk datang kepada Yesus. Yesus-pun telah terlebih dulu melakukan pekerjaan menabur. Saat murid-murid sedang pergi mencari makan, Ia melakukan pekerjaan itu (menabur) terhadap perempuan Samaria, dan hasilnya adalah orang-orang Samaria datang mencari-Nya, itulah ladang yang sudah menguning dan siap untuk dituai. Jadi yang dimaksud penuai ialah orang-orang yang dipilih Allah yang dipakai sebagai alat-Nya untuk memberitakan Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Menabur secara rohani adalah pekerjaan untuk memberitakan tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang belum percaya, membawa mereka untuk datang kepada Tuhan.
Musim menabur adalah kesempatan untuk mengabarkan injil, waktu yang sangat penting, tidak boleh disia-siakan dan tidak bisa ditunda-tunda lagi pelaksanaannya. Apa yang terjadi jika penuai menunda-nunda waktu menuai?? Jika ladang gandum yang sudah menguning tidak segera dituai maka gandum tersebut akan berjatuhan dengan sendirinya dan terserak lalu hilang, pada akhirnya burung-burung akan memungutnya. Demikian juga pada saat orang-orang sudah menyiapkan hati untuk mendengar Injil namun tidak segera ditolong, maka mereka akan terhilang dan pada akhirnya menjadi mangsa iblis.
Interprestasi dalam pelayanan di PMK Katharos:
Kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan di PMK Katharos (Badan Pengurus, Tim Kerja, Alumni), diberi tugas tidak hanya sebagai penabur, tapi juga sebagai penuai karena kita adalah orang-orang yang telah dipilih Tuhan untuk melayani di PMK Katharos untuk mengabarkan Injil Kristus. Ladang-ladang itu ialah setiap mahasiswa yang kita temui di sekitar kita, baik di kampus ataupun dikos. Sedangkan ladang-ladang yang sudah menguning ialah anggota-anggota PMK Katharos, mereka yang telah siap menerima pengajaran Frman Tuhan dalam setiap ibadah di PMK Katharos.
Salah satu contoh kasus dalam kehidupan di PMK Katharos, banyak mahasiswa yang dulunya aktif mengikuti kegiatan PMK Katharos saat mereka menjadi mahasiswa baru, namun belakangan ini mereka mulai hilang dan tidak pernah lagi mengikuti kegiatan di PMK Katharos. Mungkin letak permasalahan ada pada penuai atau bisa juga pada tuaian. Kita sebagai penuai harus peka terhadap permasalahan yang sedang terjadi pada tuaian. Mungkin mereka punya masalah dimana masalah itu membuat mereka tidak mau lagi datang di kegiatan PMK Katharos (sakit hati, kecewa, perselisihan dengan saudara di Katharos), disini seorang penuai harus peka dan harus bertindak cepat untuk membantu mereka menyelesaikan masalah ini. Apabila kita pelayan Tuhan sebagai penuai menunda-nunda waktu atau malas bekerja, maka masalah itu akan terus berlanjut dan tidak terselesaikaan. Pada saat inilah iblis akan memakai kesempatan itu, yang pada akhirnya akan berbuah menjadi akar kepahitan.

Kesimpulan:
Untuk menjadi seorang penabur, tidaklah penting bagaimana background kita, siapa saja bisa menjadi penabur asalkan dia mau memberikan dirinya untuk memberitakan kabar keselamatan. Sedangkan untuk menjadi seorang penuai, dibutuhkan sebuah komitmen untuk “melihat dan memandang” ladang-ladang disekelilingnya, yaitu jiwa-jiwa yang siap untuk dituai dan dia tidak memusingkan dirinya dengan soal kehidupan duniawi. Masa untuk menuai (memberitakan Injil) tidak bisa ditunda-tunda lagi, kita harus menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, jangan buang-buang waktu, karena sedikit saja waktu yang terbuang akan diapakai oleh iblis. Persiapkan dirimu dan tuaialah ladang-ladang yang telah menguning!

God Bless U

" Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."

YOHANES 4: 35
Referensi:
Alkitab
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/490

Selasa, 03 Juni 2014

sejarah umum

Tentang Pmk

katharos adalah sebuah PMK yang ada di Universitas Setia Budi Solo. Dengan orang-orang yang begitu luarbiasa dalam pelayanan. PMK Katharos dengan visi spirit of excellent. Semangat yang menyala-nyala.

-VISI MISI PELAYANAN PMK KATHAROS-

VISI :

“SPIRIT OF EXCELLENT”
(roh yang luar biasa)

Dikenal sekarang dengan istilah
roh yang menyala-nyala
MISI :

1. Membawa mahasiswa kepada Tuhan Yesus
2. Mendorong mahasiswa bertumbuh dalam Tuhan Yesus
3. Mendorong mahasiswa bertumbuh dalam pelayanan
4. Mendorong mahasiswa sukses dalam studi
5. Mendoakan mahasiswa senantiasa dalam Tuhan Yesus


Usulan revisi Misi :
1. Membawa mahasiswa kepada Tuhan Yesus
2. Bertumbuh bersama-sama dalam pengenalan akan Tuhan Yesus
3. Bertumbuh bersama-sama dalam pelayanan di Kampus
4. Mendukung satu sama lain untuk kesuksesan studi
5. Bertumbuh bersama dalam doa untuk pengembangan Kampus dan mahasiswa
Alasan :
1. misi pertama merupakan hal yang pokok bagi setiap orang yang Percaya pada Tuhan Yesus di Kampus, sedangkan
2. misi ke-2 sampai ke- 5 merupakan aplikasi dari setiap orang yang percaya. Pengkalimatan objek (Anggota, Badan Pengurus, Formatur, Dosen, Karyawan dan Alumni) disajikan dalam bentuk yang sederajat supaya lebih akrab dan menyatu satu sama lainnya. Tidak ada tingkatan status yang membuat kesenjangan. Pertumbuhan, pelayanan, kesuksessan dan pengembangan adalah milik bersama, walaupun secara fungsionil masing-masing memegang tugas yang berbeda-beda namun tetap menyatu satu sama lainnya dalam satu pelayanan di Kampus untuk tercapainya visi misi ilahi.

PENGANTAR AWAL VISI MISI

Dasar alkitabiah dari visi adalah TELADAN Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Tuhan Yesus memanggil kita khususnya mahasiswa (orang-orang muda) yang akan menjadi tulang punggung bangsa Indonesia untuk merealisasikan rencana Allah dengan cara memiliki ROH YANG LUAR BIASA sama seperti Daniel dan teman-temannya yang menyatakan kemuliaan Allah di Babel dalam tiga pemerintahan yang berbeda yaitu raja Nebukadnezar, raja Belsyasar dan raja Darius. Dengan ROH YANG LUAR BIASA kita dapat menyatakan kemuliaan Allah di kampus dan di Indonesia walaupun pemerintahannya selalu berubah-ubah.



TUGAS SEKARANG :

1. MEMAHAMI RENCANA TUHAN DI KITAB DANIEL BERKAITAN DENGAN ’ROH YANG MENYALA-NYALA’
2. MERANCANG DAN MENYUSUN PENJELASAN VISI MISI YANG JELAS DAN MUDAH DIMENGERTI OLEH SETIAP PEMBACA
3. MEMPERTANGGUNG JAWABKAN KEPADA SEMUA ANGGOTA PMK KATHAROS

Aplikasi praktis mengenai ”memahami rencana Tuhan di Kitab Daniel berkaitan dengan roh yang menyala-nyala” (time limit : Tue, 18 september 2007)
1. membaca, merenungkan dan menyelidiki Kitab Daniel
2. mencatat pemahaman yang diperoleh
3. mendoakan senantiasa satu sama lain supaya Tuhan menyertai dalam pemahaman yang lebih mendalam
Aplikasi praktis mengenai ”merancang dan menyusun penjelasan visi misi yang jelas dan mudah dimengerti oleh setiap pembaca” (time limit : Wed, 19 september 2007)
1. mendiskusikan hasil pemahaman pribadi dengan teman-teman yang lain
2. menarik kesimpulan dari hasil diskusi atas dasar kesepakatan bersama
3. merancang visi misi dan strateginya dalam bentuk yang jelas
4. menyusun visi misi dengan bentuk yang mudah dimengerti oleh pembaca
5. mendokumentasikan hasil rapat
6. membawa hasil rapat kepada Tuhan Yesus dalam doa
Aplikasi praktis mengenai ”mempertanggung jawabkan kepada semua anggota PMK KATHAROS” (time limit : Thurs, 20 september 2007)
1. membuat makalah penjelasan visi misi dan mengedarkannya kepada semua anggota PMK KATHAROS
2. mempresentasikan makalah penjelasan visi misi kepada semua anggota PMK KATHAROS
3. mendokumentasikan penjelasan visi misi
4. senantiasa mengevaluasi visi misi untuk pengembangan di kampus
5. mendoakan senantiasa visi misi tersebut agar bisa tercapai

Kutipan Favorit

Pelayan Tuhan berhenti belajar Katharos berhenti bertumbuh.


“Hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”
(Yakobus 1:22).

VISI MISI PMK KATHAROS

VISI MISI PELAYANAN PMK KATHAROS-

VISI :


“SPIRIT OF EXCELLENT”
(roh yang luar biasa)

Dikenal sekarang dengan istilah
roh yang menyala-nyala

MISI :
1. Membawa mahasiswa kepada Tuhan Yesus
2. Mendorong mahasiswa bertumbuh dalam Tuhan Yesus
3. Mendorong mahasiswa bertumbuh dalam pelayanan
4. Mendorong mahasiswa sukses dalam studi
5. Mendoakan mahasiswa senantiasa dalam Tuhan Yesus

Minggu, 09 Maret 2014

Words of Love

Perkataan adalah ucapan, kalimat atau ungkapan yang keluar dari mulut kita. Dalam perkataan ada 2 hal yaitu perkataan yang baik atau perkataan yang kotor. Dunia mengajarkan kita untuk tidak mengatakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kedagingan/yang kotor namun Tuhan mengajarkan kita untuk mengatakan perkataan yang membangun dan menguatkan orang lain.