PELAYAN TUHAN BERHENTI BELAJAR KATHAROS BERHENTI BERTUMBUH ( The servant of God stop learning stop growing katharos )

Selasa, 01 November 2011

ketika iman tanpa perbuatan - when a faith without action

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22
Yakobus menulis bahwa iman dan perbuatan harus seimbang. Iman bila disertai perbuatan nyata akan menjadi sempurna, jika tidak iman itu kosong dan sia-sia. Contoh: bila kita beriman kepada Tuhan Yesus dan mengakui bahwa Dia adalah Sang Penyembuh dan Gembala yang baik, mengapa ketika sakit dan menghadapi masalah kita masih mengeluh, panik, bersungut-sungut, dan mencari pertolongan ke dukun atau paranormal ? Dapatkah kita membawa orang kepada Kristus bila kehidupan kita tidak mengalami kemenangan? Ini adalah tanda bahwa iman tidak disertai perbuatan.
Bila kita berpegang teguh pada iman kita kepada Tuhan Yesus, langkah tepat jika menghadapi badai dan gelombang hidup adalah lari di bawah kaki Yesus, berdoa dan membangunkan Dia yang kita taruh di belakang perahu kita. Yakobus bertanya kepada kita, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (Yakobus 2:14)
Dengan demikian, tidak ada jalan lain untuk mencapai iman dengan taraf sempurna selain mempraktekkan firman. Salah satu contohnya adalah hal ‘kasih’. Kita berkata bahwa kita sangat mengasihi Tuhan, tetapi kita masih menyimpan sakit hati, benci atau bahkan tidak bisa mengampuni saudara kita; apakah ini kasih? “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20). Kalau kita membaca dalam Ibrani 11, di situ tercaata saksi-saksi iman, seperti Henokh, Nuh, Abraham, Musa, Yusuf dan lainnya menjadi teladan dari generasi ke generasi tidak hanya karena imannya, tetapi juga ketaatan mereka dalam melakukan firman ini adalah iman yang disertai dengan perbuatan.
“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:26)
Yakobus 2:17,26. "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati."
Selanjutnya dia berkata: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Yakobus 2:24
Paulus berkata: “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Filipi 2:12
Petrus berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7
Paulus berkata lagi: “Bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Kisah 26:20

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. Roma 2:6-11
Yesus berkata: “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa.” Lukas 13:3
Pertobatan itu memerlukan usaha dari diri kita.
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Matius 16:27
 Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. Wahyu 2:23
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Wahyu 3:19
 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku. Matius 11:29
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Lukas 9:23
Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Wahyu 3:15
 Tuhan menghendaki kita bekerja dengan sempurna, dilandasi dan dikuatkan oleh iman.
Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Lukas 13:24

Sebagai seorang percaya, kita pun memerlukan banyak sekali perubahan dalam hidup kita. Sebab pada kenyataannya masih sangat banyak hal-hal yang kita temui bahwa hidup kita masih belum hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan seperti yang tertulis dalam Alkitab. Sedangkan, kita HARUS BERUBAH dan hidup sesuai dengan Firman Tuhan ( Roma 12:2 ).

Untuk itu Firman Tuhan  mengajarkan 2 hal yang perlu kita lakukan :

1. IMAN

Untuk dapat berubah kita sangat memerlukan Iman yaitu kita percaya bahwa kita dapat berubah untuk dapat hidup sesuai Kehendak Tuhan, bukan dengan kekuatan kita sendiri tetapi dengan pertolongan Tuhan juga dalam hidup kita. Kalau kita sendiri tidak percaya / beriman, tidak mungkin kita dapat hidup sesuai dengan KehendakNya (Ibrani 11:6). Atau kalau kita menghendaki sesuatu (berkat / kesembuhan / apapun) dalam hidup kita, kita pun perlu Iman untuk kita memperolehnya (Matius 21:22). Kalau kita tidak percaya / beriman, maka kita tidak mungkin dapat berubah, atau memperoleh apa yang kita inginkan. Dan kita harus bersyukur kalau kita mempunyai Tuhan yang selalu menjawab doa kita, dan Tuhan yang selalu siap untuk menolong, sehingga Iman percaya kita kita kepadaNya tidak pernah sia-sia atau gagal.

2. PERBUATAN 

Kalau kita mau untuk berubah, maka kita juga harus mulai untuk menunjukkan bahwa diri kita mau berubah dengan cara melakukan apa yang benar sesuai Firman Tuhan, dan berusaha untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang salah lagi. Jadi, PERBUATAN,  sebagai tanda kita mau berubah, itu juga sangat diperlukan. Atau tindakan, sebagai tanda kita percaya bahwa Tuhan memberikan kesembuhan pada kita pun, itu juga sangat diperlukan.

Jadi kita lihat disini, bagaimana kedua hal itu  sangat penting dan tidak bisa hanya satu saja yang kita lakukan. Kalau kita beriman tapi kita tidak berbuat apa-apa, itu sama artinya kita tidak percaya / beriman, dan kita tidak mungkin mendapat apapun juga, apa lagi berubah. Justru dengan perbuatan kitalah, Iman kita menjadi sempurna dan dibenarkan (ayat 22,24) sebab dengan perbuatan kita itu, kita menunjukkan bahwa kita percaya, maka kita akan menerima apapun juga.

Demikian juga dalam segala hal, kalau kita mau melihat mujizat Tuhan terjadi dalam hidup kita, maka kita tidak dapat memisahkan antara kedua hal ini, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sabtu, 22 Oktober 2011

kerendahan hati - humility


Kerendahan hati adalah sifat dari seseorang yang tidak sombong atau angkuh, mau menghargai atau menganggap orang lain dan mau mengakui kesalahannya kepada orang lain terutama Allah.
Di dalam Filipi 2 terdapat dua kata, yaitu rendah hati dan rendah diri. Kedua kata ini mempunyai pengertian yang sama. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, rendah diri lebih identik dengan rasa minder atau merasa diri selalu kurang. Sedangkan rendah hati dianggap sebagai suatu sifat atau tindakan yang benar dan terpuji. Namun di dalam Alkitab, kita bisa melihat bahwa rendah hati dan rendah diri dianggap sebagai tindakan yang sama-sama benar dan terpuji. Hal ini dapat di lihat dari apa yang di ajarkan dan di lakukan oleh Tuhan Yesus sendiri (3 & 8).
Salah satu tokoh Alkitab yang juga memiliki sifat rendah hati, adalah Daud. Daud adalah seorang gembala domba yang diurapi Tuhan menjadi raja menggantikan Saul, karena kemurnian hatinya(1 Sam 16:7). Tuhan lebih melihat hatinya daripada hal-hal lahiriah atau duniawi. Di dalam Perjanjian Baru, Kristus sendiri berkata kepada orang Farisi dan hamba-hamba uang, Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah(Luk. 16:15).
Kemurnian hati Daud inilah yang membuat ia bisa menuliskan Mazmur 139, yang meminta Allah sendiri mengenal dirinya, menyelidiki dan mengenal hatinya serta meminta Tuhan melihat apakah jalannya selama ini serong serta tuntunan untuk memimpinnya kepada jalan-Nya yang kekal(Maz 139:24). Kemurnian hati Daud mengakibatkan ia menjadi seorang yang rendah hati.
Seorang pelayan Tuhan yang tidak memiliki kerendahan hati akan menjadi pelayan Tuhan yang arogan dan merasa diri paling benar sehingga sulit ditegur. Kerendahan hati bukan hanya perlu dimiliki seorang pelayan Tuhan, tetapi juga semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Kristus. Kerendahan hati berasal dari Allah dan orang yang rendah hati adalah orang yang memusatkan  kepercayaan atau iman dan kehidupannya hanya pada Allah.
Seorang yang memusatkan iman dan kehidupannya hanya pada Allah, berarti orang yang sadar bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang memerlukan Allah dan menempatkan Allah sebagai otoritas utama dalam hidupnya. Tentu saja, orang ini bukanlah orang yang keras kepala  dengan pandangannya sendiri. Sebaliknya ia akan berkata dan bersikap seperti apa yang Daud lakukan, yaitu meminta Tuhan melihat apakah jalan hidupnya serong dan memimpin ke jalan-Nya yang kekal.
 Kerendahan hati dalam iman Kristen meliputi dua hal, yaitu: rela ditegur jika salah dan mau belajar memahami orang lain. Kedua hal ini bersumber dan berpusat pada Allah dan firman-Nya, sehingga kemuliaan hanya bagi nama Allah selama-lamanya.
Alkitab sangat menjunjung sikap rendah hati dan selalu diperingatkan berulang-ulang, karena manusia mudah menjadi sombong ketika dia memperoleh kesuksesan. Kerendahan hati mendahului kehormatan (Amsal 15:33), namun tinggi hati mendahului kehancuran (Amsal 18:12). Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Amsal 22:4). Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang (Maz 22:27), dimahkotai dengan keselamatan (Maz 149:4), dan menerima pujian (Amsal 29:23). Sebab itu umat Tuhan dianjurkan agar mencari kerendahan hati sehingga dilindungi dari kemurkaan Tuhan (Zefanya 2:3) dan mengenakan kerendahan hati ( Kol 3:12). Hendaklah kamu selalu rendah hati (Efesus 4:2, Filipi 2:3).
Allah memanggil kita bersikap rendah hati sebagaimana diteladankan oleh Yesus. Allah tidak menuntut banyak dari kita. Dia hanya menuntut tiga hal yaitu, bersikap adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati (Mikha 6:8). Jika hal itu tidak kita lakukan, maka bukan hanya orang-orang di sekitar yang akan meninggalkan kita, tetapi Allah sendiri juga akan meninggalkan kita.      

Kesimpulan:   
Ada 4 hal yang bisa kita lihat di dalam Alkitab tentang rendah hati, yaitu:
Orang yang rendah hati memiliki kerelaan atau keberanian untuk mengakui kesalahan                          (1 Yoh. 1:9, 1 Kor. 10:24,  Efesus 4:2)
Orang yang rendah hati mau diajar dan belajar (Maz. 25:9)
Orang yang rendah hati, tidak sombong (Yak. 4:6b)
Orang yang rendah hati, tidak mendahulukan kepentingannya sendiri (Filipi 2:3-4)  
.
Air tak bisa mengalir jika berada di tempat yang sama. Air hanya bisa mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.                                                                                                       Berkat yang akan di berikan Tuhan kepada kita tidak dapat mengalir jika kita berada “di tempat yang sama” dengan Tuhan.                                                                                                           Tetap percaya, setia dan rendah hati maka Tuhan akan menyertai, melindungi, memberkati & mencukupkan kebutuhan kita.”
Kita adalah anak-anak Tuhan yang sama-sama belajar, kita perlu saling mengingatkan karena kita adalah satu.

diambil dari Persekutuan Doa Pmk Katharos Minggu 28 November 2010
oleh : Prima Dewi Noni Salut
Tuhan Yesus Memberkati.

Minggu, 09 Oktober 2011

Mengambil Satu Langkah Iman - Taking One Step of Faith

Hakim-Hakim: 6:25-32
Gideon didatangi seorang malaikat Tuhan. Tuhan meminta Gideon untuk maju memimpin bangsa Israel mengalahkan tentara bangsa Midian dan Amalek, jumlahnya bagaikan pasir di tepi pantai. Namun sebelum Gideon melakukan hal tersebut masih ada satu hambatan yang merintangi Tuhan untuk membantu bangsa Israel, yaitu patung dan mezbah penyembahan berhala, Baal, milik orangtua Gideon yang ada di halaman rumah mereka.
Tuhan tidak mau membantu kalau dalam rumah tangga, keluarga kita, masih ada penyembahan berhala. Patung berhala Baal sangat tidak disukai oleh Tuhan. Dalam salah satu hukum Torat disebutkan bahwa jangan ada padamu ilah-ilah lain di hadapanKu.
Tuhan tidak menyukai ada ilah-ilah lain di hadapan hadiratNya. Bila kita menginginkan Tuhan membantu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi, maka pertama-tama adalah membuang semua ketergantungan kita pada hal-hal lain kecuali kepada Tuhan saja.
Kepada Gideon Tuhan meminta dia mengambil dua ekor lembu jantan milik ayahnya, satu akan dipakai untuk persembahan dan satu lembu jantan yang lain dipakai untuk meruntuhkan mesbah penyembahan kepada Baal milik ayahnya dan orang Israel, serta menebang tiang berhala dari kayu di samping mesbah.
Sesudah meruntuhkan mezbah dan tiang berhala, Gideon harus mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mempersembahkan korban menggunakan lembu jantan yang kedua serta menggunakan kayu tiang berhala yang ditebang itu.
Perintah Tuhan ini bukan suatu perintah yang mudah, karena Gideon harus berhadapan dengan ayahnya serta orang Israel. Namun meskipun sangat takut, Gideon mengajak 10 orang temannya dan melakukan perintah Tuhan itu pada malam hari ketika semua orang telah tidur.
Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu.
Orang Israel menjadi sangat marah dan mereka mencari tahu siapa yang telah berbuat hal tersebut. Mereka mengetahui bahwa Gideon yang telah melakukannya. Mereka datang menghadap ayah Gideon agar ia menyerahkan anaknya agar dihukum mati. berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas, ayah Gideon: "Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya."
Apa yang terjadi, apakah Gideon diserahkan oleh ayahnya?
Justru disinilah mujizat itu terjadi. Ketika kita berani mengambil satu langkah iman kearah penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka Tuhan campur tangan dan mengubah jalan hidup kita. Gideon tidak diserahkan oleh ayahnya untuk dibunuh meskipun ia telah melecehkan dewa yang disembah oleh ayahnya dan orang Israel.
Yoas berdiri di depan orang-orang Israel yang menuntut agar Gideon dihukum mati dan berkata: "Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang."
Perbuatan Gideon menghancurkan patung Baal telah membawa pertobatan dalam keluarga Gideon. Yoas, ayah Gideon bertobat dan berbalik menyembah Tuhan.
Di dalam setiap masalah hidup kita selalu ada jalan yang dirancangkan Tuhan untuk selain membantu menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi, juga meluruskan hidup kita, keluarga kita, atau orang-orang di sekitar kita. Hanya dibutuhkan satu langkah iman pertama dari kita untuk mengikuti perintah Tuhan, bahkan meskipun langkah iman kita itu dilakukan dengan perasaan penuh ketakutan, tetapi Tuhan mengubah langkah itu menjadi langkah yang besar yang berdampak pada banyak orang. Ketika kita membuat satu langkah kecil kepadaNya, Tuhan mengubah itu menjadi satu langkah besar bagi semua orang.

Tuhan Yesus Memberkati.

Minggu, 02 Oktober 2011

Menyangkal Diri - denying Self


Menyangkal diri pada prinsipnya bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral seperti membunuh, berzinah, mencuri dan lain sebagainya, tetapi juga kesediaan untuk mengubah tujuan dan motif hidup.

Sesungguhnya Tuhan tidak pernah memaksa kita. Kita boleh memilih, apakah mau mengiring Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh sampai sepenanggungan dengan Dia, atau hanya mau nikmat di zona kenyamanan kehidupan ini. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus menyatakan bahwa ia lebih suka menderita bagi Tuhan ( Filipi 3 : 10 )
Ini hanya bisa dipercakapkan dengan orang-orang yang rela tidak memiliki dirinya sendiri, tetapi sepenuhnya dimiliki Tuhan. Orang-orang yang melakukan segala sesuatunya hanya untuk Tuhan. Orang-orang yang rela kehilangan nyawanya karena Tuhan. Memang kehidupan seperti ini bisa sangat menyakitkan, tetapi kalau kita berani melangkah dan membiasakan diri masuk ke dalamnya, maka kehidupan seperti ini akan menjadi suatu keindahan dan kenikmatan, sampai akhirnya kita tidak dapat memiliki hidup model lain. Kita hanya memiliki model hidup seperti dimiliki oleh sosok Guru dari Nazaret. Setiap kita mendapat kesempatan yang sama untuk mengarungi hidup ini dengan petualangan yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Firman-Nya atas seseorang akan membuat ia tidak merasa nyaman lagi hidup di bumi ini.

Ia melihat ketragisan hidup ini, namun tetap bisa menikmati semua berkat yang Tuhan sediakan. Selanjutnya ia makin menghayati apa artinya bahwa dunia ini bukan rumahnya. Dunia ini hanya tempat persinggahan sementara. Inilah yang harus terus-menerus diajarkan kepada jemaat Tuhan, bahwa Tuhan memilih kita untuk meninggalkan dunia ini sama seperti Abraham diperintahkan untuk meninggalkan Ur-Kasdim. Apakah pola hidup ini membuat seorang anak Tuhan nampak tidak wajar? Tuhan tidak mengajarkan kita hidup secara tidak wajar di mata manusia. Kita tetap hidup wajar, dalam pengertian tidak kehilangan “kemanusiaan” kita.

Menjalani hidup seperti manusia lain dalam bekerja mencari nafkah, makan dan minum, menikah, menikmati alam, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, menikmati hobi-hobi yang menyukakan hati, berolah raga, berekreasi dan lain sebagainya. Menyangkal diri pada prinsipnya bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral seperti membunuh, berzinah, mencuri dan lain sebagainya, tetapi juga kesediaan untuk mengubah tujuan dan motif hidup. Jadi yang paling dipersoalkan bukanlah “buah” semata-mata, tetapi akarnya. Kita mengerti mengapa Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang I Timotius 6:10 tradisi yang diturunkan nenek moyang kita. Inilah yang ditunjukkan Tuhan Yesus mengenai orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. Filosofi hidupnya adalah, “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” I Korintus 15:32. Bukankah ini filosofi dunia hari ini? Ungkapan “tidak kaya di hadapan Tuhan” hendaknya menyerukan kita agar kita kaya di dalam Tuhan. Untuk kaya di dalam Tuhan, kita harus mengumpulkan harta di sorga, dengan mulai memiliki motivasi dan tujuan hidup yang benar mulai dari sekarang. Hal ini bukan sekedar membantu pelayanan gereja, terlibat dalam aktivitas gereja dan berbagai kegiatan rohani lain yang kita golongkan melayani Tuhan, tetapi menyangkut seluruh irama hidup setiap hari.

Tuhan Yesus Memberkati.